KOMPAS.com – Perilaku seksual yang terjadi di ruang publik kerap memunculkan pertanyaan apakah tindakan tersebut berkaitan dengan gangguan psikologis tertentu. Namun, psikiater mengingatkan bahwa penjelasan klinis tidak boleh disederhanakan atau dijadikan dasar untuk menghakimi individu.
Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan bahwa dalam dunia kesehatan jiwa, perilaku seksual yang melanggar batas publik perlu dilihat secara hati-hati dan berbasis pemeriksaan profesional, bukan asumsi. “Tidak semua perilaku seksual yang salah otomatis berarti seseorang memiliki gangguan jiwa,” kata Lahargo dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Rabu (21/1/2026).
Baca juga: Psikiater Ingatkan, Perilaku Seksual Sehat Harus Privat dan Terkontrol Pentingnya memisahkan penjelasan klinis dan penghakiman Dalam psikologi dan psikiatri, penjelasan klinis bertujuan membantu memahami perilaku manusia, bukan memberi label atau vonis.
Lahargo menjelaskan bahwa perilaku seksual dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari lingkungan, stres, hingga kemampuan mengendalikan impuls. Karena itu, publik diimbau untuk tidak langsung menarik kesimpulan tentang kondisi kejiwaan seseorang hanya dari satu peristiwa yang terlihat.
Membership: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6